Kapal Laut

Tuhan tidak pernah menjanjikan laut tenang, atau cuaca selalu baik, tetapi Tuhan menjanjikan pelabuhan tujuan yang indah!

etiap hari aku berkomunikasi dengan crew kapal-kapal kami yang berlayar mengarungi samudra, meniti jembatan lautan, dan membelah sukma dalam rindu keluarga. Aktivitas itu terus dilakukan demi memberikan pelayanan kepada para pelanggan kami agar barang-barang atau alat alat mereka disampaikan ke pelabuhan tujuan tepat waktu. Kami bisa berkomunikasi baik lewat telepon satelite, internet maupun radio SSB sampai jarak ribuan mil laut. Suka duka anak buah kapal, nakoda dan masinis tentu banyak cerita manis-manis dan selalu manis.

Walaupun digoyang ombak dan diterpa badai, pelaut tiada pernah takut tetapi jiwa besar berpasrah dalam lindungan-NYA.

Setiap perjalanan kapal memang meninggalkan kesan yang menyenangkan. Jarang sekali ada pertengkaran atau kericuhan di atas kapal. Hampir selalu penuh dengan suka cita. Pelayaran kadang jauh. Di laut kadang bisa 20 hari. Jadi, hanya bulan bintang menghibur di malam hari dan desiran ombak.

Kapal-kapal modern sekarang sudah dilengkapi peralatan navigasi canggih, peralatan safety dan konstruksi yang baik sekali.

Kenangan saya Berlayar di tahun 1998 awal tahun saya berlayar dengan kapal kami KM Insumar bersama kawan saya John Tambayong dari Surabaya menuju Kupang 5 hari perjalanan. Belum ada pesawat terbang melayani jalur ini. Walau sahabat saya mabuk laut habis-habisan, muntah dan tidak bisa makan, tapi kami isi dengan menyanyi. Siang hari memancing ikan dan masak ikan segar.

Kenangan manis ini membuat saya menulis kisah perjalanan di tahun 1998.
Kapal laut, sering diibaratkan sebagai bahtera rumah tangga.

Kenapa demikian saya tidak tahu darimana datangnya, tetapi memang kehidupan rumah tangga seperti kapal laut yang berlayar. Suami sebagai nakoda, istri sebagai masinis, dan anak-anak sebagai anggota atau ABK. Semua harus terlibat. Satu hal yang sangat menarik di atas kapal adalah manajemen yang sangat rapi. Tidak ada satu pun yang nganggur. Semua bekerja keras.

Rumah tangga yang sehat bisa mencontoh sebuah kapal laut yang dioperasikan dari pulau ke pulau atau kota ke kota. Walau badai menerpa, angin ribut melawan, hujan dan angin, petir, ombak menggulung, dan arus menghanyutkan, tetapi semua bisa dilalui.

Ada juga kita lihat dan temukan rumah tangga ibarat kapal pecah atau tidak kuat diterpa ombak dan badai sehingga harus tenggelam. Memang benar Tuhan tidak selalu menjanjikan rumah tangga selalu damai dan penuh suka cita.

Kadang harus melawan goncangan-goncangan, namun Tuhan pasti menjanjikan pelabuhan tujuan cinta yang indah. Jadi, kita nikmati badai dan ombak dalam rumah tangga bukan sebagai sumber kecelakaan atau bagian dari kapal pecah melainkan semuanya adalah rencana Tuhan. Dan, akan menjadi indah pada waktunya.

Ibarat kita ujian dan naik kelas atau lulus hasilnya akan sungguh menggembirakan kehidupan kita. Namun sebuah kapal yang pasti perlu nakoda yang baik bisa mengayomi, penuh tanggung jawab dan selalu memberikan cinta.

Kehidupan Rohani kita juga sama halnya kapal laut. Di air laut pasang dan surut kadang-kadang kita kehilangan arah tapi Tuhan selalu memberi petunjuk ibarat bintang tujuh di arah selatan.

Tuhan begitu sayangnya sama kita anak-anak-Nya sehingga tiada hentinya menghembuskan nafas cinta-Nya buat kita hidup lebih hidup. Semoga Tuhan memberkati semua sahabat, terutama melindungi bahtera rumah tangga yang.

By: Sadaruddin Mansyur

<a href=”http://www.getresponse.com/?a=sadar_mansyur”&gt;
<img src=”http://affiliates.getresponse.com/promos/225/getresponse_pro_300x250.jpg&#8221; />
</a>

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s